Langsung ke konten utama

I'm Not a Twin ( Part 3 )




3. Kehilangan


Bolos! Satu kata yang tak pernah ingin ku lakukan. Namun hari ini aku harus melakukan nya. Karena ini adalah satu-satu nya cara agar aku bisa membatalkan mimpi ku, yaitu dengan menemui mama ke kantornya.
Aku tahu, hal ini akan berdampak dengan berkurang nya kesempatan ku pada tahun ini.
Ya! Jika aku mengatakan kebenaran bahwa aku bermimpi mama mengalami kecelakaan, maka akan mengurangi kesempatan untuk membatalkan mimpi ku.
Umurku sekarang tujuh belas tahun, maka kesempatan ku untuk membatalkan mimpi hanya tujuh belas kali.
Karena setiap tahun nya kesempatan itu akan bertambah sesuai dengan bertambah nya umurku. Dan berkurang apabila aku memberitahu kan sebuah rahasia. Rahasia bahwa aku bisa melihat kejadian didalam mimpi ku kepada orang lain.
Bukan hanya kehilangan kesempatan, aku juga akan merasakan kesakitan jika aku memberitahukan tentang rahasia tersebut kepada orang lain, kecuali Arya.
Semenjak aku lahir,aku sudah memiliki kekurangan itu. Dan aku tak tahu apa penyebab nya.
Awal aku mengetahui bahwa mimpi ku akan menjadi kenyataan, disaat aku berumur tujuh tahun.
Awalnya aku mengira bahwa itu hanyalah mimpi biasa, namun keesokan harinya mimpi itu benar-benar terjadi.
Selama berumur tujuh tahun, sudah banyak kejadian yang tak bisa aku selamatkan.
Namun ada satu kejadian yang bisa aku batalkan, tapi akhirnya membuat ku merasakan sakit dan kehilangan kesempatan terakhirku.

Flashback
Mama, jangan pergi sama Kanya! Kanya akan terjatuh dipesawat itu. Pukul dua lewat dua puluh. Aku melihat nya dalam mimpi ku, ma. Dan setiap mimpi ku itu menjadi kenyataan " ucapku yang hanya di jawab dengan tertawa oleh mama
" Kamu gila apa? Mimpi? Kamu pkir saya bodoh? Akan percaya dengan bocah kecil seperti kamu? " ucap mama dan mulai berjalan meninggalkan ku
Aku segera berlari kecil dan menyusul mama " Ma? Sekali ini aja mama dengerin aku, aku akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu sama Kanya, Ma. Sekali aja, mama mau dengerin aku ya?" ucapku yang mulai menangis
" Ini alasan saya tak pernah senang bisa berbicara dengan kamu, kamu pikir ini negri dogeng? Mimpi bisa jadi kenyataan? Saya tidak sebodoh itu" jawab mama menggenggam tangan Kanya dan meninggalkan ku
Flashback end

Hari itu adalah hari pertama bagi ku merasakan sakit dan kehilangan kesempatan ku diumur tujuh tahun.
Aku tak tahu apa yang menyebabkan mimpi ku itu tak terwujud. Yang aku tahu, setelah aku berbicara kepada mama, aku jatuh pingsan karna menahan sakit dikepala ku yang sangat luar biasa. 

" Nara!" teriak Arya yang membuat lamunan ku berhenti
" Ayo naik, kita kekantor mama kamu " ucap Arya yang memberikan ku helm berwarna hitam

Arya menggunakan kecepatan penuh untuk menuju kantor mama, aku sangat gugup hari ini. Aku tahu cara ku ini adalah cara yang salah.
Aku percaya, bahwa mama tidak akan mempercayai nya. Tapi setidaknya, aku bisa menunda waktu untuk mama menjemput Kanya.

**

Sesampainya di kantor mama, aku melihat mama yang akan melangkah mendekati mobilnya.
Langkah ku terasa sangat berat menghampiri mama. Karna bisa dikatakan, aku dan mama sangat jarang berbicara. Bahkan aku dan mama tak pernah bertemu di rumah sekalipun.
Dengan langkah yang sedikit dipercepat, aku pun menyusul mama.

" Ma?" panggilku pelan yang membuat mama menoleh ke arahku
" Kamu? " mama terlihat sangat terkejut melihatku " Kenapa kamu ada disini?" tanya mama
" Mama mau kemana? " tanya ku pelan
" Saya ingin menjemput Kanya" Ujar Mama dan melanjutkan " Kamu nggak sekolah? Bukan nya sebentar lagi kalian pulang sekolah? " Ucap mama melihat jam ditangan nya
" Ini masih jam tiga, Kanya bilang dia akan keluar jam setengah empat karna ada pelajaran tambahan." Ucap mama
" Iya ma, Kanya masih disekolah. Aku kesini karna ada keperluan sama mama." Ucapku
" Saya tidak bisa bicara sama kamu, saya ingin menjemput anak saya, jalanan pasti akan macet. Saya tak mau membuatnya menunggu lama " ucap mama mendekati mobilnya
" Ma!! Jangan pergi!!" teriakku
Mama menoleh kepadaku dan menatapku tajam " Apa lagi? Saya tak punya urusan dengan kamu " Ujar mama
" Sekali saja, sebentar saja, mama disini bersama ku. Sebentar saja ma " ucapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca
" Saya tak mau membuang waktu dengan mu, dan membuat anak saya menunggu" Jawab mama
" Ma!! Mama akan kecelakaan ditabrak truk saat menjemput Kanya kesekolah" ucapku dengan nada yang naik
" Apa? Kecelakaan? Kamu tahu dari mana? Kamu tuhan? " Tanya mama dan melanjutkan " Oh iya, saya ingat. Mimpi itu lagi? "
" Iya ma " Ucapku pelan " Aku benar-benar nggak berbohong ma, aku serius. Mimpi itu akan jadi kenyataan " Ucapku meyakinkan
" Nara!! Kamu udah besar, bukan bocah berumur tujuh tahun lagi!! Untuk apa kamu berbohong masalah itu lagi?" Tanya Mama

Aku hanya terdiam, yang dikatakan Arya benar, Mama takkan semudah itu untuk percaya padaku.
Dengan menahan sakit yang luar biasa di kepalaku, aku pun memberanikan diri untuk berbicara lagi.

" Ma? Mama ingat kan kejadian ketika aku berumur tujuh tahun? Teman nenek yang setelah pulang dari rumah kita kecelakaan? " Tanya ku dan melanjutkan " Mama ingat kan? " 

Namun mama hanya terdiam tak menjawab

" Aku melihat kejadian itu dua hari sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku nggak tahu, kalau mimpi itu akan jadi kenyataan. Tapi kenyataan nya iya,mimpi aku jadi kenyataan. Teman nenek meninggal ditempat yang sama seperti kejadian didalam mimpi aku" Ucapku meyakinkan mama
" Aku ha-nya meminta wak-tu mama sampai jam tiga le-wat lima belas menit " Ucap ku yang menahan sakit " Setelah itu mama boleh pergi men-jemput Ka-nya"
Aku pun merasakan hempasan yang cukup keras saat tubuh ku mulai terjatuh. Dan terdengar suara Arya yang memanggil nama ku, dan menggenggam tanganku.

**

Mata ku terbuka pelan,melihat cahaya lampu yang begitu terang, membuat mata ku terasa perih.
Ku lihat disekitar, dan mataku melihat sosok Arya yang menggenggam tangan ku.

" Ra? Kamu udah bangun?" Tanya Arya
" Aku dimana? Dirumah sakit ya?" Tanya ku melihat sekeliling
" Iya,tadi kamu pingsan" Ucap Arya
" Ma-ma? Mama gimana?" Tanya ku terpikir akan kejadian tadi siang
" Kejadian itu bisa kamu batalkan Ra. Saat lihat kamu pingsan,mama kamu terlihat sangat kaget. Namun dia tetap berencana menjemput Kanya, aku cegah,dan akhirnya aku bisa menunda kepergian mama kamu menjemput Kanya"
" Syukurlah kalau begitu,aku sangat khawatir" Ucapku
" Kamu udah kehilangan satu kesempatan untuk membatalkan mimpi kamu Ra. Sekarang, hanya tersisa lima belas kesempatan lagi, jadi aku mohon, tolong gunain kesempatan itu baik-baik " Ucap Arya meyakinkan ku
" Iya, aku akan gunain kesempatan itu baik-baik"
Aku pun teringat sesuatu " Ya? Kalau seandainya, kejadian Kanya mau diculik itu beneran. Kamu juga beneran, bakalan jadiin aku umpan nya?" Tanya ku panasaran
" Ya ampun.. Aku nggak nyangka, kamu bakalan kepikiran sama itu"
Arya pun mengelus rambutku " Kalau itu jadi kenyataan, aku nggak kan jadiin kamu umpan. Aku nggak kan biarin kamu di culik sama preman itu.Jangan kan di culik, kamu di pegang sama mereka aja, aku nggak kan rela" Jawab nya tersenyum kepada ku
Dan aku pun lega mendegar jawaban dari Arya. Jadi, kalau kejadian itu jadi kenyataan, aku nggak kan di jadikan umpan oleh Arya. 

**

Setelah kepulangan ku dari rumah sakit,aku hanya berdiam diri dikamar. Tubuh ku seakan tak mau bergerak, aku hanya menatap pagar rumah ku yang terlihat dari jendela kamarku.
Tak hanya pagar yang menjadi pusat dari penglihatan ku, aku melihat Kanya yang sedang asyik berbicara dengan David.
Kanya terlihat sangat bahagia saat bersama David. Dia tersenyum dan terkadang tertawa.
Aku merasa bahwa aku sangat ingin dekat dengan Kanya, mengenal dirinya. Banyak tanda tanya di dalam otak ku yang ingin mengetahui semua tentang dirinya.
Aku dan Kanya tak pernah berbicara, bahkan dirumah pun kami jarang bertemu. Namun disaat aku melihat nya, hati ku pernah bertanya.
Apakah dia juga ingin mengenalku? Apakah dia memiliki ribuan pertanyaan tentang diriku?
Namun aku tahu, bahwa Kanya tak pernah menghiraukan ku sebagai saudara kembarnya.
Kini mata ku tertuju kepada Kanya yang mulai berjalan meninggalkan David. Namun ada satu hal yang membuat ku terkejut, bahwa Kanya melihat ke arah kamarku. Dia melihat jendela kamar ku. Dan dia melihat ku.
Dia menatap ku lama, seolah ada yang ingin ia katakan. Namun aku tak tahu apa yang akan ia katakan. Dia hanya menatapku dan kemudian berlalu meninggalkan ku.

**

Pagi ini adalah pagi yang sangat istimewa untukku. Aku tak bermimpi, tak ada beban yang akan aku lakukan di hari ini.
Aku sangat menunggu hari ini, aku sangat berharap tak pernah bermimpi. Berharap bahwa aku bisa tak mewujudkan mimpiku.
Dan akhirnya hari ini aku bisa menjalani hidupku seperti orang lain pada normalnya.

" Nara!!" Terdengar suara Arya mendekatiku
" Iya? Ada apa?" Tanya ku
" Kamu bermimpi? " Tanya nya
" Kalau aku bermimpi, aku pasti nggak kan setenang ini, Ya " Ucapku tersenyum
" Baguslah. Gimana kalau sepulang sekolah kita jalan ke mall? Kamu pasti udah jarang banget kan, pergi jalan sama aku? "
" Iya, maaf ya. Aku sibuk banget sama kerjaan aku. Kamu tahu kan? Kalau aku nggak kerja, aku dapat uang dari mana? " Tanya ku dengan wajah yang sendu
" Iya juga sih. Gimana kalau kamu bicara dengan papa kamu, mana tahu dia udah mulai mau nerima kamu"
" Nggak kan, Papa juga sama, sama Mama. Nggak suka sama aku, bahkan papa sangat jelas nggak suka nya sama aku. Emang nya kenapa?" Tanya ku
"Nggak, aku cuma kasihan aja ngelihat kamu setiap hari kerja. Kalau ada yang kasih kamu uang,, kan kamu nggak usah kerja lagi"
" Aku nggak apa-apa kok, Ya. Kamu nggak usah khawatir. Lagipula aku senang ngelakuin semua ini. Satu hal yang harus kamu tahu, sesuatu akan terasa bahagia apabila kita bersyukur."  Ucap ku dan melanjutkan " Aku bersyukur banget sama kehidupan aku sekarang. Masih baik mereka masih mau kasih aku tempat tinggal, kalau nggak ? Aku pasti udah jadi gembel yang nggak tahu mau kemana. "
" Kamu benar juga Ra, kita memang harus bersyukur. Karna masih ada, orang yang hidup di bawah kemampuan kita sekarang " Ucap Arya
" Gitu dong, itu baru nama nya sahabat Kinara. Harus bersyukur! " Balasku menggenggam tangan Arya erat

Kejadian hari ini, memberikan aku pelajaran. Semua yang kita harapkan, belum tentu bisa kita dapatkan. Semua yang sudah kita rencanakan, belum tentu berjalan sesuai dengan rencana. Bagiku, itulah kehidupan, terkadang bisa di ubah dengan cara kita sendiri, tetapi terkadang, kehidupan itu yang membuat cara kita berubah. 


Bersambung... 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

I'm Not a Twin ( Part 1 )

1.       Rahasia Nama ku Kinara Olivia. Aku seorang gadis yang hari ini berumur tujuh belas tahun. Seorang gadis, yang banyak orang mengatakan, bahwa aku termasuk gadis yang pendiam, jika dilihat dari luar. Namun, aku gadis yang sangat mengasyikkan, jika sudah melihat dari dalam. Untuk pengenalan awal, aku rasa nama ku sudah cukup. Kalian tak perlu tahu, apa status ku, golongan darahku, zodiak ku, bahkan makanan kesukaan ku. Karna semua itu, akan kalian dapatkan dari ceritaku. Sebelum aku memulai untuk bercerita tentang kisahku, izinkan aku menanyakan satu hal kepada kalian. Pernahkah, kalian berpikir, bahwa kehidupan yang kalian jalani, diluar akal sehat? Aku percaya, kalian tak pernah memikirkan hal itu. Namun, di cerita ini, kalian akan mendengar sebuah kisah, yang sulit diterima oleh akal sehat, dan tak memugkinkan untuk terjadi. Tapi, percaya atau tidak percaya, inilah kisahku. ** Pagi ini, cahaya mentari datang ...

Bukan Pemeran Utama ( Part 3 )

Rasa nyaman tak pernah di undang datang nya. Dan ketika ia datang, tak bisa di tolak. Hanya bisa menikmati nya, dan akan membuat hati bertanya. Apakah berhenti dirasa ini, atau akan ada rasa baru yang akan datang? - Ayana Olina Barsha - *** Pagi itu Gevan sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan lamaran nya nantik siang. Gevan sudah menemukan perempuan yang ia anggap layak untuk mendapatkan nya. Sudah beberapa bulan Gevan mendekati cewek yang bernama Dinda Aryani, anak Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas nya.  Dan Gevan yakin, lamaran nya kali ini akan di terima oleh Dinda. Secara mereka sudah sangat dekat dan sering menikmati waktu berdua akhir-akhir ini. Dan tidak ada alasan untuk Dinda menolak cowok tampan yang satu ini.  Berbeda dengan Gevan, Ayana malah di pusingkan dengan pilihan antara dia ke Pekanbaru atau tidak. Kenzio masih belum memastikan kepada Ayana, apakah ia boleh ikut dengan keluarga nya atau tidak...

Bukan Pemeran Utama ( Part 2 )

Ada sesuatu di dalam dirinya yang berbeda dari orang lain. Hal kecil yang mungkin menurut orang lain adalah hal yang biasa, tapi hal itu menjadikan ku memiliki rasa nyaman bila ada di dekatnya.  -Kenzio Daffa Argani-  ** Sebuah cafe yang lumayan besar di kawasan Veteran menjadi pilihan kelima anak muda itu untuk menikmati santapan pada malam hari. Masing-masing mulai memesan makanan yang mereka inginkan, ada yang memesan nasi goreng dan memesan minas saking laparnya.  Sembari menunggu pesanan, Ayana teringat dengan percakapan nya dengan Ken di atas motor di saat perjalanan dari toko kue sampai cafe tersebut. Ken bercerita tentang Pekanbaru, tentang hubungan nya yang kandas, dan sesekali memberikan masukan kepada Ayana untuk mempertahankan hubungan jarak jauh nya dengan Juan.  Malam itu Ayana menyadari, bahwa Ken adalah teman yang asyik di ajak ngobrol, karna setiap kali dua insan itu membicarakan suatu topik, mereka sama-sama ...