Langsung ke konten utama

I'm Not a Twin ( Part 7 )


7. Pertama Kali


KANYA POV
Lamunan ku terhenti disaat Arya mendekati ku.
" Maksud lo apaan sih Nya? Bukan nya rencana kita udah fix akan dilakukan di Bandung" Ucap Arya saat semua anggota OSIS keluar dari ruangan
" Iya gue tahu, cuma masih ada orang tua yang nggak izinin acara itu dilakukan di Bandung" Ucapku
" Semua orang tua setuju Nya, kapan perlu kita buat surat izin dari ortu masing-masing"
" Tapi nggak sama orang tua gue Ya" Ucapku yang membuat Arya terdiam
" Mama nggak bolehin gue ke Bandung"
" Acara OSIS selalu diadakan di Jakarta Nya. Semua orang berharap acara nya dilakukan di Bandung. Lo kan bisa jelasin sama nyokap lo" Ucap Arya
" Ya, gue dari kecil nggak pernah ke Bandung, mama nggak bolehin gue ke Bandung"
" Alasan nya apa?" Tanya Arya
" Gue nggak tahu alasan nya, gue minta tolong sama lo Ya, tolong yakinin anggota yang lain. Gue benar-benar nggak bisa ke Bandung Ya" Pinta ku
" Gue benar-benar nggak ngerti harus gimana sekarang" Ucap Arya dan beralih meninggalkan ku seorang diri diruang OSIS
KANYA POV END 

**
Langkah ku berjalan pasti keruangan OSIS. Aku melihat Arya yang keluar dari ruang OSIS dengan wajah yang sulit diartikan.
" Arya?" Panggilku
" Eh kamu Ra. Ada apa?"
" Maksud kamu apaan sih Ya? Kenapa kalian nggak pernah hargai organisasi Pramuka?" Tanya ku dengan nada yang naik satu oktaf
" Kamu kenapa sih Ra? Apa lagi coba?" Tanya Arya
" Organisasi kalian nggak pernah hargain organisasi Pramuka! Kalian pikir cuma organisasi kalian aja yang bisa berkuasa? Setidaknya kalian hargai kami!!" Bentakku
" Kamu kenapa sih Ra?"
" Masalah kemping kalian! Kalian gunain tenda Pramuka kan? Udah dapat izin dari kami?" Tanya ku dengan nada yang tinggi
" Aku tahu!! Setidaknya kamu tanya baik-baik sama aku Ra!! Kenapa harus bentak-bentak gini!! Nggak lucu!! " 
Ucap Arya
" Kamu yang nggak lucu!! Kenapa kamu nggak pernah menghargai ku sebagai Ketua Pramuka? Kita sahabatan Ya!! Setidaknya kamu menghargai ku sebagai sahabatmu!! Aku kecewa sama kamu Ya!!"
" Aku yang kecewa sama kamu! Kamu masih belum berubah!! Masih seperti anak kecil yang mendahulukan emosi untuk menyelesaikan masalah!!" Ucap Arya
" Emosi? Gimana aku nggak emosi jika sikap mu seperti ini. Sok berkuasa!!"
" Terserah!!" Ucap Arya beralih meninggalkan ku
Aku terdiam melihat sikap Arya kali ini. Untuk yang pertama kalinya dia membentakku dan tak mengacuhkan diriku. 
" Ara!!" Terdengar suara mendekatiku
" Ara?" Tanya ku kepada Nanda yang ada disampingku
" Itu panggilan khusus gue buat lo. Singkat dan lucu. Gimana?" Tanya Nanda yang mengikuti langkah ku
" Lumayan, gue suka" Jawabku
Disaat aku berjalan bersama Nanda melewati ruangan OSIS. Terdengar suara pintu terbuka. Dan ternyata Kanya yang ada diambang pintu tersebut.
" Kanya?" Panggil Nanda yang ada disampingku
Jarak ku dan Kanya sangat dekat. Baru kali dia menatapku dengan jarak yang begitu dekat. 
" Lo Nanda?" Tanya Kanya sinis
Baru kali ini aku melihat Kanya bersikap dingin kepada orang lain. Karna Kanya dikenal dengan sikap nya yang ramah kepada semua orang. Makanya dia terpilih menjadi Ketua OSIS.
" Iya. Lo Ketua OSIS? " Tanya Nanda 
Aku dan Kanya saling menatap. Tapi tak bersuara. Baru kali ini aku bisa melihat wajah yang sama dengan ku dari jarak yang dekat.
" Gue duluan. Gue ada kepentingan" Ucap Kanya dan beralih meninggalkan ku dan Nanda
Aku dan Nanda hanya terdiam melihat tingkah Kanya seolah-olah menjauh dari ku dan Nanda.
Menjauh nya Kanya terhadapku tak menjadi masalah untuk ku, namun bagaimana dengan Nanda? Kenapa dia tak bertingkah baik kepada Nanda?
Tak mau berlama-lama didepan ruangan OSIS, aku dan Nanda segera menuju kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya.
Disaat aku memasuki kelas, aku melihat Arya yang telah duduk rapi dibangku sebelahku.
" Han? Bisa ganti tempat duduk nggak? Gue duduk disebelah Nanda? " Ucapku kepada Farhan yang duduk disebelah Nanda
" Lo pasti berantem sama Arya ya?" Tanya Farhan beralih duduk di bangku ku
" Kok lo pindah Ara? Lo lagi berantem sama Arya?" Tanya Nanda pelan
" Ntar gue ceritain" Ucapku karna tahu Arya mendengar pembicaraan kami
**
Disaat pelajaran berakhir, aku dan Nanda berencana ingin pulang bersama. Namun sebelum pulang Nanda ingin mengajak ku kerumah nya dan bertemu dengan Mama nya.
" Kamu yakin mau bawa aku kerumah mu?" Tanya ku
" Iya, aku sempat menceritakan mu kepada Mama, jadi Mama minta untuk mengajak mu kerumah. Kamu mau ya?" Bujuk Nanda yang sudah ia lakukan sedari tadi
" Baiklah, aku mau" Jawabku tersenyum
Jarak sekolah dengan rumah Nanda lumayan jauh, jadi kami berdua mengisi waktu luang dengan saling berbagi cerita.
Disaaat mobil Nanda berhenti dirumah yang bertemakan klasik tersebut, aku diminta nya keluar dari mobil.
" Ini rumah gue, ayo masuk" Ucap Nanda membukakan pintu mobil
" Makasih Nda" Ucapku berjalan mengikuti langkah kaki Nanda
Disaat pintu rumah nya terbuka, aku melihat beberapa foto yang terpajang rapi dirumahnya.
Terdapat foto keluarga Nanda yang terlihat sangat harmonis. 
" Lo bawa siapa kerumah Nda?" Tanya seorang cewek yang menghampiriku
Dia sangat mirip dengan Nanda
" Kenalin dia Kinara, teman gue" Ucapnya menatapku
" Dan dia Amanda, saudara kembar gue, Ara" Lanjut Nanda
" Gue Amanda, lo Kinara yang diceritain Nanda sama nyokap gue itu?" Tanya Amanda
" Udah pulang sayang?" Terdengar suara mulai mendekati kami
" Udah Ma" Jawab Nanda kepada seorang wanita yang ia panggil Mama tersebut
" Ma, kenalin. Dia Kinara, teman yang aku ceritain" Ucap Nanda memperkenalkan ku kepada Mama nya
Butuh waktu yang sebentar untuk mendekati keluarga Nanda. Semua keluarga nya sangat ramah kepadaku.
Walaupun aku hanya bertemu dengan Mama dan kembaran nya Nanda, tapi aku sangat merasakan betapa harmonis nya keluarga ini.
" Kata Nanda kamu punya kembaran, benar?" Pertanyaan Mama Nanda membuatku terdiam sejenak
" Eh iya tante, kenapa tante?" Tanya ku
" Nggak, tante juga punya teman yang memiliki anak kembar di Jakarta, cuma tante nggak tahu siapa nama mereka. " Ucap Tante Intan
" Anak kembar bukan hanya aku maupun Kinara ma, masih banyak yang lain. Kenapa mama begitu panasaran sama anak kembar teman mama itu?" Tanya Nanda
" Nggak, mama cuma ingin tahu keadaan keluarga mereka" Jawab Tante Intan
Perkenalan ku dengan keluarga Nanda berjalan dengan baik. Dan aku bisa menemukan keluarga baru dirumah yang kini sedang aku nikmati keharmonisan nya.
**
KANYA POV
Malam ini aku masih kepikiran dengan kejadian disekolah. Disaat aku menatap Kinara dengan jarak yang sangat dekat. Aku melihat bahwa diriku ada didalam dirinya.
Namun pikiran ku hanya terfokus kepada kedekatan Kinara dan Nanda, aku melihat mereka sangat dekat, bahkan Kinara terlihat sudah menjauhi Arya dan lebih memilih dekat dengan Nanda.
Aku terpikir dengan ucapan Mama kepadaku, bahwa aku tak boleh dekat dengan anak dari keluarga Suryo.
Walaupun aku tak tahu alasannya, tapi aku yakin jika keluarga itu tak berdampak baik untukku.
Namun bagaimana dengan Kinara?
Apakah dia boleh dekat dengan keluarga Suryo?
Pertanyaan itu selalu menghantui ku. Dan dengan keberanian yang cukup besar, aku menghampiri Mama yang sedang menikmati cemilan di depan televisi.
" Ma?" Panggilku
" Ada apa sayang?" Ucap mama menepuk bagian sofa meisyaratkan untuk meminta ku duduk
" Ma? Anak dari Suryo itu sekelas dengan ku" Ucapku
" Apa?" Mama terlihat sangat kaget atas ucapanku
" Yang satunya sekelas dengan ku, yang satunya lagi aku nggak tahu Ma. Kata teman-teman ku yang satunya lagi IPA dua ma"
" Yang sekelas dengan mu cowok?" Tanya Mama
" Iya Ma" Jawabku
" Ingat ya sayang, jangan pernah dekat dengan mereka. Jika mereka mendekati mu langsung jauhi !! Oke?"
" Ini beneran karna urusan bisnis Ma?" Tanya ku
" Maksud kamu apa?"
" Kenapa hanya karna urusan bisnis, Aku harus menjauhi mereka? "
" Kamu ikuti saja perintah Mama, ini juga untuk kebaikan kamu Nak" Ucap Mama menatap mataku
" Lalu hanya aku yang tak boleh dekat dengan keluarga Suryo itu Ma?" Tanyaku
" Lalu siapa lagi? Jangan bilang-"
" Kinara dekat dengan Nanda Ma, anak Suryo" Ucapku membuat Mama terdiam sejenak
" Nggak papa jika Nara dekat dengan mereka Ma?" Tanya ku lagi
" Kenapa dengan mu Kanya? Kenapa tiba-tiba kamu memikirkan dia? Jangan bilang kamu udah dekat dengan dia"
" Nggak Ma, aku nggak dekat dengan dia. Aku tahu apa dampak nya jika aku dekat dengan dia. " Ucapku dan berpikir
" Aku hanya memikirkan bisnis Papa saja, nggak apa-apa jika Kinara dekat dengan mereka? Apa tak berdampak pada bisnis Papa?" Tanyaku
" Biarin aja, malah Mama senang jika dia dekat dengan keluarga Suryo" Ucap Mama seperti memikirkan sesuatu
" Kenapa senang Ma?" Tanya ku panasaran
" Keluarga Suryo itu jahat, namun mereka bisa membantu kita menghilangkan Kinara"
" Menghilangkan?"
" Mereka bisa membunuh Kinara seperti yang dulu mereka lakukan"
Ucapan mama terdengar sangat pelan ditelingaku. Mama seperti ingin bicara dengan dirinya sendiri.
Namun aku bisa mendengarnya secara jelas. Membunuh? Satu kata yang belum pernah aku dengarkan keluar dari mulut Mama.
Apa kesalahan Kinara sampai Mama tega membiarkan seseorang ingin menyakitinya? Menyakiti anaknya sendiri.
KANYA POV END
**
Sudah dua hari aku dan Arya tak bertegur sapa, dan selama dua hari itu aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam hidupku.
Kehilangan!
Satu kata yang bisa ku jelaskan jika Arya tak ada didalam hidupku. Karna untuk pertama kalinya, aku dan Arya tak saling berbicara selama dua hari.
Namun hari ini, aku sangat membutuhkan Arya. Walaupun Arya seperti sangat menjauh dariku, namun aku harus memberanikan diri untuk memulai berbicara dengan Arya.
Karna seorang Arya Wijoyo takkan pernah untuk memulai menegurku.
" Arya?" Panggilku yang duduk disebelahnya
" Ada apa?" Tanya Arya tak seperti biasanya
" Aku bermimpi" Ucapku menatap Arya penuh dengan harapan


Bersambung..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

I'm Not a Twin ( Part 1 )

1.       Rahasia Nama ku Kinara Olivia. Aku seorang gadis yang hari ini berumur tujuh belas tahun. Seorang gadis, yang banyak orang mengatakan, bahwa aku termasuk gadis yang pendiam, jika dilihat dari luar. Namun, aku gadis yang sangat mengasyikkan, jika sudah melihat dari dalam. Untuk pengenalan awal, aku rasa nama ku sudah cukup. Kalian tak perlu tahu, apa status ku, golongan darahku, zodiak ku, bahkan makanan kesukaan ku. Karna semua itu, akan kalian dapatkan dari ceritaku. Sebelum aku memulai untuk bercerita tentang kisahku, izinkan aku menanyakan satu hal kepada kalian. Pernahkah, kalian berpikir, bahwa kehidupan yang kalian jalani, diluar akal sehat? Aku percaya, kalian tak pernah memikirkan hal itu. Namun, di cerita ini, kalian akan mendengar sebuah kisah, yang sulit diterima oleh akal sehat, dan tak memugkinkan untuk terjadi. Tapi, percaya atau tidak percaya, inilah kisahku. ** Pagi ini, cahaya mentari datang ...

Bukan Pemeran Utama ( Part 3 )

Rasa nyaman tak pernah di undang datang nya. Dan ketika ia datang, tak bisa di tolak. Hanya bisa menikmati nya, dan akan membuat hati bertanya. Apakah berhenti dirasa ini, atau akan ada rasa baru yang akan datang? - Ayana Olina Barsha - *** Pagi itu Gevan sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan lamaran nya nantik siang. Gevan sudah menemukan perempuan yang ia anggap layak untuk mendapatkan nya. Sudah beberapa bulan Gevan mendekati cewek yang bernama Dinda Aryani, anak Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas nya.  Dan Gevan yakin, lamaran nya kali ini akan di terima oleh Dinda. Secara mereka sudah sangat dekat dan sering menikmati waktu berdua akhir-akhir ini. Dan tidak ada alasan untuk Dinda menolak cowok tampan yang satu ini.  Berbeda dengan Gevan, Ayana malah di pusingkan dengan pilihan antara dia ke Pekanbaru atau tidak. Kenzio masih belum memastikan kepada Ayana, apakah ia boleh ikut dengan keluarga nya atau tidak...

Bukan Pemeran Utama ( Part 2 )

Ada sesuatu di dalam dirinya yang berbeda dari orang lain. Hal kecil yang mungkin menurut orang lain adalah hal yang biasa, tapi hal itu menjadikan ku memiliki rasa nyaman bila ada di dekatnya.  -Kenzio Daffa Argani-  ** Sebuah cafe yang lumayan besar di kawasan Veteran menjadi pilihan kelima anak muda itu untuk menikmati santapan pada malam hari. Masing-masing mulai memesan makanan yang mereka inginkan, ada yang memesan nasi goreng dan memesan minas saking laparnya.  Sembari menunggu pesanan, Ayana teringat dengan percakapan nya dengan Ken di atas motor di saat perjalanan dari toko kue sampai cafe tersebut. Ken bercerita tentang Pekanbaru, tentang hubungan nya yang kandas, dan sesekali memberikan masukan kepada Ayana untuk mempertahankan hubungan jarak jauh nya dengan Juan.  Malam itu Ayana menyadari, bahwa Ken adalah teman yang asyik di ajak ngobrol, karna setiap kali dua insan itu membicarakan suatu topik, mereka sama-sama ...